PERAN MEDIA RELATION DALAM MENANGANI KRISIS



PERAN MEDIA RELATION DALAM MENANGANI KRISIS

1. Krisis
Krisis oleh perusahaan kerap kali diidentikkan sebagai virus atau wabah penyakit yang menggerogoti perusahaan. Penyebab terjadinya krisis adalah karena keterbatasan manusia mengatasi berbagai tuntutan lingkungan atau kegagalan teknologi tinggi. Beberapa contoh telah memperlihatkan hal tersebut kepada kita. Musibah lainnya yang dapat menyebabkan krisis adalah mogok masal, kebakaran, kecelakaan, ancaman pengambilalihan perusahaan, peraturan baru yang merugikan, skandal, resesi ekonomi, dan sebagainya (Kasali, 2003:217). Keputusan penting dari bidang Humas dengan sigap dan dukungan penuh dari manajemen perusahaan, adalah dengan bekerjasama dengan media secara baik. Selama krisis berlangsung, setiap keputusan Humas didasarkan pada prinsip tanggung jawab bisnis sosial, yang membuat peran Humas menjadi sangat efektif. Dalam kasus tersebut, satu hal yang menyebabkan krisis di anggap kritis karena terbukanya akses ke media massa (Iriantara, 2008:175).
Pada keadaan normal, di mana segalanya berjalan sesuai rencana, hal tersebut kadang di angggap menarik bagi media massa. Wajar apabila kemudian sekarang timbul kesadaran dari pimpinan organisasi bahwa mereka memerlukan kesiapan tersendiri untuk menghadapi krisis, terutama yang berkaitan dengan Media Relations atau hubungan dengan pers. Kesadaran seperti ini, juga dapat diartikan sebagai peluang yang baik bagi para praktisi humas di organisasi-organisasi. Kasus tersebut menegaskan bahwa peranan media penting untuk perusahaan. Fungsi Media Relations dapat meningkatkan citra perusahaan, meningkatkan kepercayaan publik terhadap produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan, membantu perusahaan keluar dari krisis dan meningkatkan relasi perusahaan.
Dalam menghadapi krisis perusahaan melakukan proses manajemen krisis yaitu mengidentifikasi krisis, menganalisis krisis, mengisolasi krisis, menetapkan pilihan strategi menghadapi krisis dan menjalankan program pengendalian (Kasali, 2003:231). Media Relations tidak hanya terkait dengan kalangan pers saja melainkan juga mediamedia elektronik seperti radio, televisi dan sebagainya. Karena pada kepustakaan lama pers dibagi menjadi dua, pertama pers dalam arti sempit yakni media cetak dan kedua dalam arti luas itu meliputi semua jenis media perkabaran (Iriantara, 2008:6).
2. Media Relation dan Public Relation
Hubungan masyarakat dalam pengertian sebagai metode komunikasi mengandung arti bahwa kegiatan hubungan masyarakat dilakukan sendiri oleh pemimpin. Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya (Effendy, 2003:28).
Dalam pelaksanaannya komunikasi mempunyai beberapa teknik yang diantaranya: Komunikasi Informatif, Komunikasi Persuasif, Komunikasi Pervasif, Komunikasi Koersif, Komunikasi Instruktif, Hubungan Manusiawi (Effendy, 2003:55). Kaitannya dengan pembahasan penelitian ini adalah teknik komunikasi apa yang digunakan pihak PLN dengan pihak Media baik secara formal maupun informal dalam penanganan krisis. “Public Relations activity is management of communications between an organization andits publics”(Aktivitas Public Relations adalah mengelola antara organisasi dan publiknya). “Public Relations practice is deliberate, planned and sustain effort to establish and maintainmutual understanding between an organization and its public” (Praktek Public Relations adalah memikirkan, merencanakan dan mencurahkan daya untuk membangun dan menjaga saling pengertian antara organisasi dan publiknya) (Ruslan, 2006:16).
Bagian terpenting dari pekerjaan humas yaitu membuat kesan atau citra (image), pengetahuan dan pengertian publik terhadap organisasi, menciptakan ketertarikan, penerimaan dengan menjelaskan sebuah kejadian dengan sejelas-jelasnya sehingga apabila ada hal negatif terjadi dapat diputar menjadi pengertian dan penerimaan, menarik simpati.
Public Relations Society of America (PRSA), sebuah Organisasi Public Relations yang terbentuk pada tahun 1947 di Amerika, pada tahun 2002 merumuskan aktivitas-aktivitas Public Relations : Community Relations, Counseling, Development/Fundraising, Employee/Member Relations, Financial Relations, Government Affairs, Industry Relations, Issues Management, Media Relations, Marketing Communication, Minority Relations/Multicultural Affairs., Public Affairs, Special Events and Public Participant (Chatra&Nasrullah, 2008:78).
Saat krisis Humas menjalankan Media Relations untuk menjaga citra perusahaan agar tetap baik, pasca krisis pun Media Relations diharapkan dapat memperbaiki citra perusahaan yang menurun (Yulianita, 1999:43). Media Relations merupakan salah satu kegiatan humas eksternal yang membina dan mengembangkan hubungan baik dengan media massa sebagai sarana komunikasi antara organisasi dengan publik untuk mencapai tujuan organisasi (Iriantara, 2005:32).
Definisi hubungan media (Media Relations) adalah usaha untuk perkembangan mencapai publikasi atau penyiaran yang maksimum atas suatu pesan atau informasi PR dalam rangka menciptakan pengetahuan dan pemahaman bagi khalayak dari organisasi atau perusahaan yang bersangkutan (Jefkins&Yadin, 2005:113). Humas mempunyai tugas utama yaitu memberikan pelayanan media, menegakkan suatu reputasi agar dapat dipercaya, memasok naskah informasi yang baik, kerjasama yang baik dalam menyediakan bahan informasi, penyediaan fasilitas yang memadai dan membangun hubungan secara personal dengan media.
Media Relations adalah relasi yang dibangun dan dikembangkan dengan media untuk menjangkau publik guna meningkatkan pencitraan, kepercayaan, dan tercapainya tujuan-tujuan individu maupun organisasi/perusahaan (Iriantara, 2008:29). Kegiatan Media Relations merupakan salah satu bagian dari program Hubungan Masyarakat, ada kriteria agar kegiatan Media Relations berjalan baik. Kriteria itu meliputi :
a.      Komitmen, yang berkenaan dengan kesungguhan dari setiap pihak yang terlibat dalam program untuk memberikan hasil terbaik.
b.      Kejelasan, yang berkenaan dengan pesan yang hendak disampaikan itu jelas dan sederhana.
c.       Konsistensi, yang berkaitan dengan konsistensi dalam maksud dan tujuan. Serta konsistensi dalam citra yang hendak dikembangkan.
d.      Kreativitas, yang berkaitan dengan cara-cara yang kita kembangkan untuk menjalin hubungan dengan media, penyusunan pesan, kegiatan yang dijalankan dalam program tersebut dan seterusnya (Iriantara, 2008:46)

Sebagai saluran komunikasi, media massa memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan media lainnya. Ada lima karakteristik media massa:
·         Pertama, bersifat melembaga, pihak yang mengelola media melibatkan banyak individu mulai dari pengumpulan, pengelolaan sampai pada penyajian informasi.
·         Kedua, bersifat satu arah.
·         Ketiga, jangkauan yang luas, artinya media massa memiliki kemampuan untuk menghadapi jangkauan yang lebih luas dan kecepatan dari segi waktu juga, bergerak secara luas dan simultan di mana dalam waktu bersamaan informasi yang disebarkan dapat diterima oleh banyak individu.
·         Keempat, pesan yang disampaikan dapat diserap oleh siapa saja tanpa membedakan faktor demografi seperti jenis kelamin, usia, suku bangsa, dan bahkan tingkat pendidikan. Kelima, dalam penyampaian pesan media massa memakai peralatan teknis dan mekanis (Cangara, 2003:134-135).

Karena ancaman yang timbul pada saat krisis, hendaknya Humas memperhatikan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan humas terhadap media. Hal-hal yang dapat dilakukan Humas antara lain:
a.      Membuat hubungan yang mesra dengan media
b.      Mendidik pimpinan agar berkenan menjadi public figure, pihak media akan lebih senang membuat berita ketika di perusahaan terdapat public figure.
c.       Mengatur pertemuan dengan pers, Humas dapat mengatur siapa sumber yang layak ditemui oleh wartawan di perusahaannya.
d.      Memberitahukan hak-hak sumber berita, agar sumber berita lebih siap praktisi humas perlu memberi tahu hak-hak seorang sumber berita
e.      Menyusun stategi wawancara, praktisis humas tidak hanya menyiapkan bahan tertulis untuk diberikan sumber berita terhadap pers, tetapi juga merancang strateginya (Kasali, 2000:188-189).
Dalam berhubungan dengan instansi atau perusahaan pada saat krisis, media massa memiliki harapan-harapan yang harus diketahui oleh perusahaan, khususnya oleh praktisi humas dalam membangun saling ketergantungan harapan yang terpenting adalah untuk mendapatkan informasi yang terbaru dari pihak humas dan eksekutif perusahaan sehingga pada saat keadaan krisis media akan lebih membutuhkan pimpinan perusahaan untuk menyampaikan informasi dibanding pihak humas. Selain itu reporter juga mengharapkan tidak ada informasi yang disembunyikan, surat kabar bersungguh-sungguh untuk memasukan muatan berita sebanyak mungkin dengan ruang yang terbatas, media juga mengharapkan lembaga memberikan pemikiran yang sungguhsungguh dan jelas.           Tahapan dalam krisis menurut Steven Fink yaitu: Tahap Prodromal, tahapan krisis ini merupakan tahapan krisis turning point. Pada tahapan ini sudah muncul tanda-tanda bahaya krisis apabila tidak segera diatasi akan segera bergeser ke tahap akut. Tahap Akut, pada tahap ini krisis dapat dikatakan the point of no return. Tahapan ini signal yang muncul sudah terlihat jelas. Tahap Kronik, tahapan ketika krisis sudah mengalami puncak tetapi juga akan segera masuk ke tahapan penyembuhan (resolusi). Tahapan ini juga bisaa disebut dengan the clean up phase. Tahap Resolusi, tahapan ini disebut tahap penyembuhan dan tahap terakhir dari 4 tahap krisis (Kasali, 2003:225-230). Dalam mengelola krisis, langkah-langkah yang harus dilakukan: Identifikasi Krisis, Analisisis Krisis, Isolasi Krisis, Pilihan Strategy,
a)      Strategi Defensif (Mengulur Waktu, Tidak Melakukan apa-apa, Membentengi diri dengan kuat),
b)      Strategi Adaptif (Mengubah Kebijakan, Modifikasi Operasional, Kompromi, Meluruskan Citra), Program Pengendalian (Kasali, 2003:231-232).
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya yang berkaitan dengan pers/media pada saat penanganan krisis, Public Relations melakukan beberapa kegiatan antara lain :
·         Konferensi pers, temu pers atau jumpa pers yaitu diberikan secara bersamaan oleh pihak instansi atau perusahaan swasta
·         Press Breafing yaitu dilaksanakan secara regular oleh seorang pejabat humas/PR. Dalam kegiatan ini disampaikan informasi-informasi yang lebih rinci dibanding kegiatan lainnya.
·         Special Event yaitu peristiwa khusus sebagai suatu kegiatan PR yang penting dan melibatkan banyak orang di dalamnya
·         Press Lunched yaitu pejabat PR mengadakan jamuan makan siang bagi para wakil dari media, sehingga dalam kesempatan ini dapat melakukan komunikasi antar personal yang lebih efektif
·         Kunjugan media yaitu wartawan acapkali diundang guna mengunjungi sebuah pabrik, menghadiri acara pembukaan kantor baru yang disusul dengan peninjauan bersama, atau acara demonstrasi produk baru.
·         Wawancara Pers yaitu sifatnya lebih pribadi karena hanya melibatkan dua orang yaitu pihak media dengan pihak perusahaan. (Ardianto&Soemirat, 2004:128-129).
Bentuk hubungan media (wartawan/pers) menurut Frank Jefkins adalah sebagai berikut : a. Kontak pribadi Pada dasarnya, keberhasilan pelaksanaan hubungan dengan media tergantung ”apa dan bagaimana” kontak pribadi antara kedua belah pihak yang dijalin melalui informal seperti adanya kejujuran, saling pengertian dan menghormati serta kerja sama yang baik demi tercapainya tujuan atau publikasi yang positif. b. Pelayanan informasi atau media (news service) Pelayanan yang sebaik-baiknya diberikan oleh pihak humas perusahaan kepada pihak media dalam bentuk pemberian informasi, publikasi dan berita baik tertulis, tercetak (press release, news letter, photo press), maupun terekam (video release, cassetsrecorded, slide film). c. Mengantisipasi kemungkinan hal darurat (contingencyplan) Untuk mengantisipasi kemungkinan permintaan bersifat mendadak dari pihak wartawan atau media mengenai wawancara, konfirmasi, dan sebagainya. Pihak pejabat humas harus siap melayaninya, demi menjaga hubungan baik yang selama ini telah terbina, dan nama baik bagi narasumbernya (Ruslan, 2005:163).
 Adapun untuk mejalankan kegiatan-kegiatan tersebut ada proses Media Relations, Kegiatan Media Relations sebagai salah satu kegiatan Humas, yang dilaksanakan melalui tahapan-tahapan dalam proses kerja humas. Jadi agar kegiatan Media Relations ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan-tujuan. Oleh karena itu menurut Yosal iriantara dalam bukunya Media Relations (2005:46) mencakup tahapan-tahapan penelitian, perumusan masalah, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
a)      Perencanaan, perencanaan merupakan usaha untuk mewujudkan suatu agar terjadi atau tidak pada masa depan. Dalam perencanaan dikenal dengan istilah perencanaan jangka pendek dan perencanaan jangka panjang. Dengan perencanaan kita dapat menganalisis kebutuhan, program, kebijakan serta praktik Media Relations organisasi agar berjalan sesuai dengan tujuan Media Relations organisasi. Analisis tersebut dapat dilakukan dengan model analisis SWOT, yaitu dengan menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan atau ancaman Organisasi yang berkaitan dengan hubungan organisasi dengan media.
b)      Implementasi, merupakan penjabaran dari perencanaan yang telah di tetapkan. Dengan melaksanakan program–program yang berusaha untuk mencapai tujuan– tujuan organiasi. Melalui program Program program yang berhubungan tentang pencapaian hubungan media dengan organisasi. Dalam proses implementasi, monitoring merupakan hal yang penting. Untuk mengetahui program tersebut berjalan baik atau tidak. Karena kendala–kendala program yang tidak diperhitungkan bisa saja muncul dan dipaksa untuk melakukan penyesuaian program. Seperti Program MediaRelations, pertumbuhan dan perkembangan media sangat cepat sehingga perlu adanya penyesuaian organisasi terhadap hal tersebut. Selain itu menjadi penyokong jalannya program adalah kebijakan. Kebijakan yang menguntungkan dan dapat memenuhi keinginan objeknya akan berpengaruh terhadap lancarnya program yang dijalankan. Seperti kebiajakan sebuah organisasi agar terbuka terhadap semua media massa menjadi penopang keberhasilam program yang di implementasikan.
c)      Evaluasi, pada dasarnya tahap evaluasi adalah tahap pengukuran, sejauh mana keberhasilan program humas mempengaruhi keberhasilan dari tujuan organisasi. Efektifitas dari program tersebut diukur dengan variable–variable hasil yang diinginkan oleh organisasi secara jelas. (Iriantara, 2005:46). Secara umum penggunaan media dalam kegiatan penanganan krisis mempunyai beberapa tujuan, antara lain: Meningkatkan kesadaran, misalnya kesadaran bahwa krisis yang terjadi di perusahaan merupakan kecelakaan/gejala alam. Mengubah sikap, misalnya mengubah sikap dari anti menjadi netral dan dari nertal menjadi pro (mendukung) sehingga media secara tidak langsung dapat menjadi Humas perusahaan. Mendorong tindakan, misalnya mendorong untuk mendukung kebijakan dan membuat berita yang sesuai dengan kenyataan. (Iriantara, 2005:90).

Untuk mendukung tujuan tersebut, dalam hal ini dikenal berbagai macam media yang dapat digunakan dalam kegiatan PR. Secara garis besar, media tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut: Media cetak, termasuk di dalamnya adalah house journal, surat kabar, majalah, dan sebagainya. Broadcasting media, termasuk di dalamnya adalah radio, televisi. Special event atau kegiatan-kegiatan khusus. Media luar ruang, termasuk di dalamnya spanduk, reklame, poster, dan lain-lain (Rumanti, 2004:118).
 Oleh karena itu strategi Media Relations dirasa penting untuk penanganan krisis perusahaan, strategi Media Relations terdiri dari :
a.       Mengelola Relasi :
1)      Mengelola relasi dengan media massa sebagai perusahaan dan wartawan sebagai media massa,
2)      Melakukan komunikasi yang intens diantara kedua belah pihak yang berkenaan dengan tugas-tugas pokok masing-masing,
3)      Membentuk tim media,
4)      Seluruh anggota menjalankan tugas menjalin hubungan baik dengan pihak media,
5)      Menjalin relasi yang dibangun bedasarkan antar manusia.

b.      Mengembangkan strategi :
1)      Terus mengembangkan materi PR untuk media massa,
2)      Menggunakan berbagai media yang ada untuk menyampaikan pesan kepada public,
3)      Membangun dan memelihara kontak dengan media massa,
4)      Memposisikan organisasi sebagai sumber informasi handal untuk media massa,
5)      Memposisikan pimpinan organisasi sebagai juru bicara,
6)      Selalu berkoordinasi dengan bagian-bagian lain dalam perusahaan sehingga selalu mendapatkan informasi terakhir.

c.       Mengembangkan jaringan :
1)      Merekrut tenaga wartawan untuk menjadi Public
Relations Officer (PRO) di organisasi,
2)      Berhubungan baik dengan organisasi kewartawanan,
3)      Berhubungan baik dengan orang dari profesi yang berasal dari luar organisasi yang berkenaan memperluas jaringan dengan dunia media massa (Iriantara, 2005:77)

3. Daftar Pustaka
Referensi :
Zulmi Savitri, M.Ikom

Yang diambil dari :
1)      Caywood, Clarke L., Ph.d, Ed. The Handbook of Strategic Public Relations & Integrated Communications. U.S.A: McGraw-Hill, 1997.
2)      Cutlip, Scott M. & Allen H. Center. 2000. “Efective Public Relations”.New Jersey : Prentice Hall.
3)      Chase, W. Howard. Issue Management: origins of the future. U.S.A.: Issue Actions Publications Inc., 1984.
4)      Nova, Firsan. 2011. “Crisis Public Relations”. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
5)      Regester, Michael, Judy Larkin. Risk Issues and Crisis Management in Public Relations. New Delhi: Crest Publishing House, 2003.
6)      Wongsonagoro, Maria. “Crisis Management & Issues Management” (The Basics of Public Relations). Jakarta: IPM Public Relations, 24 Juni 1995.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokumentasi Karnaval RISMANA 18 th

Rangkuman Langkah penyusunan RPP